PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa Sawit adalah salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sangat penting, yang dewasa ini tumbuh sebagai tanaman liar (hutan), setengah liar dan sebagai tanaman yang dibudidayakan di daerah-daerah tropis Asia Tenggara, Amerika Latin dan Afrika. Menurut penelitian, tanaman ini berasal dari Afrika, yaitu dari kawasan Nigeria di Afrika Barat (Setyamidjaja, 1998).
Kelapa Sawit bukanlah tanaman asli di Indonesia. Tanaman ini dimasukkan pertama kali dari Afrika sebagai sentra plasma nutfah pada tahun 1948, ditanam di kebun raya Bogor. Percobaan-percobaan banyak dilakukan di berbagai tempat di Jawa dan Sumatera. Di Sumatera Selatan misalnya di tanam di Muara Enim (1860), di Musi Ulu (1878), di Belitung (1890) dan lain-lain (Naibaho, 1998).
Tanaman kelapa sawit merupakan tumbuhan tropis golongan palma yang termasuk tanaman tahunan. Kelapa sawit yang dikenal yaitu Dura, Psifera dan Tenera. Ketiga jenis ini dapat dibedakan berdasarkan penampang irisan buah, yaitu jenis Dura memiliki tempurung yang tebal, jenis Psifera memiliki biji yang kecil dengan tempurung yang tipis, sedangkan Tenera yang merupakan hasil persilangan Dura dan Psifera menghasilkan buah bertempurung tipis dan inti yang besar (Naibaho, 1998).
Kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati terpenting. Luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga tahun 1991 di perkirakan telah mencapai 1,6 juta Ha dan 1993 CPU berkisar 3,7 juta ton. Penggunaan minyak kelapa sawit sebagai minyak goreng pada tahun 1985 tercatat telah mencapai 55,3% (Sugito, 1997).
Masa Jepang (1942-1945) merupakan masa suram dan perkebunan kelapa sawit. Produksi tidak dapat terjual; sebagian areal kebun ditanam tanaman pangan dan pabrik-pabrik tidak beroperasi. Perkembangan kebun terhenti, kondisi kebun rusak dan dari 66 perusahaan hanya 4 yang dapat dibangun kembali (Anonimous, 1999).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk NPKMg dan Pembibitan Kelapa Sawit di Main Nursery Pada Beberapa Komposisi Media Tanam

Hipotesa Percobaa
Diduga adanya pengaruh media tanam dan pemberian pupuk NPKMg serta interaksi terhadap pertumbuhan pembibitan kelapa sawit (Elaeis guneensis Jacq.) di main nursery.
Kegunaan Penulisan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai informasi bagi pihak yang membutuhkan.




TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Sastrosayono (2008) sistematika tanaman kelapa sawit yaitu :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Palmae
Famili : Palmaceae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq..
Akar kelapa sawit akan tumbuh ke bawah dan ke samping membetuk akar primer, sekunder, tertier, dan akar kuartener. Akar primer tubuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Sedangkan akar sekunder, tertier, dan kuartener tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah, bahkan akar tertier dan kuartener menuju lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung hara (Fauzi,dkk , 1997).
Batang kelapa sawit tumbuh lurus keatas, diameternya dapat mencapai 40-60cm. Pada tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat karena tertutup oleh pelepah daun (Syamsulbahri,1985).
Susunan daun tanaman kelapa sawit mirip dengan tanaman kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk. Daun-daun tersebut akan membentuk suatu pelepah daun yang panjangnya dapat mencapai kurang lebih 7,5 – 9 m. Jumlah anak daun pada tiap pelepah berkisar antara 250 – 400 helai (Fauzi, dkk., 1997).
Susunan bunga terdiri dari karangan buga yang terdiri dari bunga jantan (tepung sari) dan bunga betina (putik). Namun, ada juga tanaman kelapa sawit yang hanya memproduksi bunga jantan. Umumnya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam tandan yang sama. Bunga jantan selalu masak lebih dahulu daripada bunga betina (Sastrosayono, 2008).
Secara botani, buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe, terdiri dari pericarp yang terbungkus oleh exocarp (kulit), mesocarp, dan endocarp (cangkang) yang mebungkus 1-4 inti/kernel. Inti memiliki testa (kulit), endosperm yang padat, dan sebuah embrio (Syamsulbahri,1985).

Syarat Tumbuh

Iklim
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2.000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak turun selama 3 bulan meyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak (brondol) sampai turun hujan (Sastrosayono, 2008).
Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup, untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit yang ditanam pada ketinggian 500 m di atas permukaan air laut akan terlambat berbunga 1 tahun jika dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah (Fauzi, dkk, 1997).
Suhu optimal yang diperlukan oleh kelapa sawit adalah 27-32 ºC. Tinggi rendahnya suhu berkaitan erat dengan ketinggian lahan dan permukaan air laut. Oleh karena itu ketinggian lahan yang baik untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 0-400 m dpl, karena pada ketinggian tersebut temperatur udara diperkirakan 27-32 ºC (Hadi, 2004).
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang Selatan 120 pada ketinggian 0-500 m dpl. Jumlah curah hujan yang baik adalah 2000-2500 mm/tahun, tidak memiliki deficit air, hijan agak merata sepanjang tahun (Lubis, 1992).
Tanah
Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Akan tetapi, agar kelapa sawit dapat tumbuh secara optimal memerlukan jenis tanah yang cocok. Jenis tanah yang baik untuk kelapa sawit adalah jenis Latosol, Podsolik Merah Kuning dan Aluvial yang kadang-kadang meliputi pula tanah gambut (Setyamidjaja,1991).
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musim kemarau dan tidak tergenang air pada usim hujan (drainase baik). Di lahan-lahan yang permukaan air tanahnya tinggi atau tergenang, akar akan busuk. Selain itu, pertumbuhan batang dan daunnya tidak mengindikasikan produksi buah yang baik (Sastrosayono, 2008).
Pupuk NPKMg
Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas di atmosfer, hasil dekomposisi bahan organic, loncatan listrik di udara (petir) dan pupuk buatan. Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion NH4+ (ammonium) dan ion NO3- (nitrat). Nitrogen berperan dalam proses pembungaan, pemasakan buah/biji, dan meningkatkan produksi buah (www.libang.deptan.go.id, 2008).
Kalium adalah termasuk hara makro yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman. Kalium yang tersedia dalam tanah cukup rendah, karena pemupukan hara N dan P yang cukup besar dan akibat pencucian dan erosi. Sumber utama kalium adalah dari kerak bumi, terdapat sebagai persenyawaan dalam batuan (Damanik, dkk, 2010).



BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanan Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 25 m dpl pada bulan Oktober sampai bulan Desember 2011.
Bahan dan Alat Percobaan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah bibit kelapa sawit yang berumur 3-3,5 bulan sebagai objek pengamatan, TKKS yang digunakan sebagai kompos, topsoil, pasir, sub soil yang digunakan sebagai media tanam, polyag yang digunakan sebagai wadah penanaman, pupuk NPKMg sebagai factor percobaan, air sebagai penyiram tanaman dan label nama untuk menandai perlakuan setiap polybag, dan bahan lain yang mendukung percobaan.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampurkan media tanam, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, gembor untuk menyiram tanaman, ayakan yang digunakan untuk mengayak media tanam dan buku data yang digunakan sebagai tempat penulisan data, , dan alat lain yang mendukung percobaan.
Metode Percobaan
Metode percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu:
Faktor 1 : Media Tanam (M) dengan 2 taraf
M1 : Top Soil + Pasir (2:1)
M2 : Subsoil + TKKS (3:1)

Faktor 2 : Pupuk NPKMg (P) dengan 4 taraf
P0 : 0
P1 : 15 gr
P2 : 30 gr
P3 : 45 gr
Maka akan didapat 8 kombinasi perlakuan, yaitu:
M1P0 M2P0
M1P1 M2P1
M1P2 M2P2
M1P3 M2P3
Jumlah Ulangan : 3
Jumlah Stump per plot : 6
Jumlah bibit per polybag : 1
Jumlah polybag perplot : 2
Jumlah bibit seluruhnya : 36 bibit





PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polibeg berukuran 1 x 1 m2, dibuat parit sedalaam 30 cm dengan lebar parit dalam 30 cm dan parit luar 50 cm.
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah topsoil dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1, begitu juga sub soil dengan TKKS dengan perbandingan 3 : 1.
Pindah Tanam
Pindah tanam dilakukan dengan cara merobek polibeg kecil dan memindahkan bibit ke polibeg yang besar yang berukuran 10 kg.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi atau sore hari tergantung cuaca.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada saat gulma mulai tumbuh di polibeg maupun di plot.
Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman sejak berumur 1 MSPT hingga tanaman berumur 8 MSPT dengan interval 1 Minggu.
Diameter Batang (mm)
Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas prmukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 1 MSPT hingga tanaman berumur 9 MSPT dalam interval 1 Minggu.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak tanaman berumur 1 MSPT hingga berumur 9 MSPT dalam interval 1 Minggu.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Lampiran 19, Tinggi Tanaman (cm) Minggu VII (22 November 2011)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
I II
M1P0 103,00 50,50 153,5 76,75
M1P1 45,00 107,00 152 76
M1P2 37,50 45,20 82,7 41,35
M2P0 47,50 66,25 113,75 56,875
M2P1 49,00 54,50 103,5 51,75
M2P2 49,80 47,00 96,8 48,4
Total 331,8 370,45 702,25
Rata-rata 55,3 61,741667 117,0417
Lampiran 20, Two Way Table Tinggi Tanaman pada Minggu VII
Perlakuan P0 P1 P2 Total Rata-rata
M1 153,5 152 82,7 388,2 129,4
M2 113,75 103,5 96,8 314,05 104,683
Total 267,25 255,5 179,5 702,25
Rata-rata 133,625 127,75 89,75 351,125
Lampiran 21, Grafik Tinggi Tanaman Pada Minggu VII


Lampiran 39, Diameter Batang (mm) Minggu VII (22 November 2011)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
I II
M1P0 44,5 27,86 72,36 36,18
M1P1 22,31 44,1 66,41 33,205
M1P2 16 18,55 34,55 17,275
M2P0 15,5 28,25 43,75 21,875
M2P1 24,5 22,05 46,55 23,275
M2P2 16 27,5 43,5 21,75
Total 138,81 168,31 307,12
Rata-rata 23,135 28,05167 51,186667

Lampiran 40, Two Way Table Diameter Batang pada Minggu VII
Perlakuan P0 P1 P2 Total Rata-rata
M1 72,36 60,41 34,55 167,32 55,7733
M2 43,75 46,55 43,5 133,8 44,6
Total 116,11 106,96 78,05 301,12
Rata-rata 58,055 53,48 39,025 150,56

Lampiran 41, Grafik Diameter Batang Pada Minggu VII


Lampiran 60, Jumlah Daun (helai) Minggu VII (22 November 2011)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
I II
M1P0 13 8,5 21,5 10,75
M1P1 6,5 19 25,5 12,75
M1P2 6,5 7 13,5 6,75
M2P0 6,5 12,5 19 9,5
M2P1 7,5 5,5 13 6,5
M2P2 7,5 6 13,5 6,75
Total 47,5 58,5 106
Rata-rata 7,916667 9,75 17,66667
Lampiran 61, Two Way Table Jumlah Daun pada Minggu VII
Perlakuan P0 P1 P2 Total Rata-rata
M1 21,5 25,5 13,5 60,5 20,1667
M2 19 13 13,5 45,5 15,1667
Total 40,5 38,5 27 106
Rata-rata 20,25 19,25 13,5 53
Lampiran 62, Grafik Jumlah Daun Pada Minggu VII



Pemahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa data tertinggi pada parameter tinggi tanaman (cm) terdapat pada perlakuan M1P0 dengan rata – rata tinggi tanaman 76,75. Hal ini dikarenakan pada perlakuan M1P0 menggunakan media top soil dicampur dengan pasir, dimanana top soil merupakan tanah bagian atas yang kaya akan unsur hara dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Khaeruddin (1991) yang menyatakan bahwa bibit kelapa sawit membutuhkan media tanam yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang baik. Media tanam yang diberikan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik, misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 0 – 20 cm, dan berasal dari areal pembibitan disekitarnya. Tanah yang digunakan harus memiliki struktur yang baik, tekstur yang remah dan gembur, tidak kedap air serta bebas kontaminan.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa data terendah pada parameter tinggi tanaman (cm) terdapat pada perlakuan M1P2 dengan rata – rata tinggi tanaman 41,35. Pemberian pupuk seharusnya meningkatkan pertumbuhan tanaman serta memperkaya kandungan hara bagi tanaman, namun pemberian pupuk yang tidak tepat dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Lingga dan Marsono (2009) yang menyatakan bahwa pemupukan merupakan factor yang penting dalam pertumbuhan tanaman. Dalam reaksi biokimia tanaman, pupuk fosfat mempunyai peranan penting sebagai penyimpanan dan pemindahan energi kerja osmosis, reaksi fotosintesis dan glikolisis serta pada akhirnya berpengaruh pertumbuhan dan juga produksi tanaman.
Dari data yang diperoleh diketahui bahwa data tertinggi pada parameter diameter batang (mm) adalah pada perlakuan M1P1 dengan nilai rata – rata 33,205. Pemberian top soil sebagai media tanam memang efisien, ditambah lagi dengan pemberian pupuk yang sesuai dosis, waktu, cara dan jenis nya, sehingga pertumbuhan batang tanaman kelapa sawit meningkat. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2005) yang menyatakan bahwa pada tanaman belum menghasilkan, pupuk kimia yang diberikan adalah pupuk majemuk N-P-K-Mg (15-15-6-4 atau 12-12-17-2). Pemupukan dilakukan setiap 4 bulan sekali dengan dosis 1,5 kg untuk setiap pohon. Bibit berumur 4 – 6 bulan sebanyak 20 gram setiap polibeg, umur 7 – 12 bulan, sebanyak 30 – 40 gram setiap polibeg. Pemupukan dilakukan setiap sebulan sekali.
Dari data yang diperoleh diketahui bahwa data terendah pada parameter diameter batang (mm) adalah pada perlakuan M1P2 dengan nilai rata – rata 17,275. Top soil yang digunakan sebagai media tanam haruslah yang bertekstur baik dan bebas dari pestisida, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan bibit. Hal ini sesuai dengan literatur Sianturi (1991) yang menyatakan bahwa untuk media tanam atau tanah pengisi kantong besar digunakan top soil yang bertekstur baik, bila terpaksa memakai tanah liat berat, harus dicampur dengan pasir kasar (pasir sungai) dengan perbandingan 3:2. Media tanam jangan dicampur dengan fungisida dan insektisida karena dapat merusak bibit.
Dari percobaan yang dilakukan diketahui bahwa data tertinggi pada parameter jumlah daun (helai) terdapat pada perlakuan M1P1 dengan rata – rata jumlah daun yaitu 12,75. Pembentukan daun pada tanaman kelapa sawit dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor keturunan atau genetik dan faktor lingkungan. Keadaan lingkungan dan temperatur yang optimal akan mempermudah proses fotosintesis pada daun sehingga pertumbuhan daun optimal. Hal ini sesuai dengan literature Sianturi (1991) yang menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit tua membentuk 2 – 3 daun setiap bulan, sedangkan yang lebih muda menghasilkan 3 – 4 daun per bulan. Produksi daun dipengaruhi oleh faktor-faktor: umur, lingkungan, musim dan genetik.
Dari percobaan yang dilakukan diketahui bahwa data terendah pada parameter jumlah daun (helai) terdapat pada perlakuan M2P1 dengan rata – rata jumlah daun yaitu 6,5. Penggunaan TKKS sebagai media tanam pada tanaman kelapa sawit sangat efisien karena hasil dari dekomposisi TKKS dapat di jadikan pupuk yang kandungan unsur hara nya seperti pupuk N, P, K, Mg sesuai yang dibutuhkan oleh tanaman. Namun pada perlakuan M2P1, penggunaan media tanam TKKS ditambahkan pupuk NPKMg sehingga dosis pupuk berlebih akibatnya pertumbuhan daun tidak optimal, seharusnya penggunaan pupuk majemuk tersebut dapat dikurangi. Hal ini sesuai dengan literatur Sutanto (2005) yang menyatakan bahwa kompos TKKS merupakan bahan organic yang mengandung unsur hara N, P, K, Mg. Selain diperkirakan mampu memperbaiki sifat fisik tanah. TKKS juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit berkurang.



KESIMPULAN
1. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa data tertinggi pada parameter tinggi tanaman (cm) terdapat pada perlakuan M1P0 (76,75) dan terendah pada perlakuan M1P2 (41,35).
2. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa data tertinggi pada parameter diameter batang (mm) adalah pada perlakuan M1P1 (33,205) dan terendah pada perlakuan M1P2 (17,275).
3. Dari percobaan yang dilakukan diketahui bahwa data tertinggi pada parameter jumlah daun (helai) terdapat pada perlakuan M1P1 (12,75) dan terendah pada perlakuan M2P1 (6,5).
4. Pemupukan NPKMg nyata meningkatkan pertumbuhan bibit dan juga nyata meningkatkan kadar hara dan serapan tanaman secara linear, pada metode pemupukan akar.
5. Pemindahan bibit dari pre nursery ke main nursery dapat dilakukan pada saat bibit berumur 3 – 3,5 bulan atau telah berdaun 3 – 4 helai.




DAFTAR PUSTAKA
Damanik, M. M. B., B. E. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin dan H. Hanum, 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU. Press, Medan

Fauzi, y., Y. E. Widiastuti., I. Satyawibawa., R. Hartono. 1997. Kelapa Sawit, Budidaya. Penebar Swadaya. Jakarta

Hadi, M. M. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karya Nusa. Yogykarta

Lubis, A. U., 1992. Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala, Pematang Siantar

Sastrosayono, S. 2008. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta

Setyamidjaja,D.1991.Budidaya Kelapa Sawit.Kanisius,Yogyakarta

Sianturi, H. S. D., 1991. Budidaya Kelapa Sawit, USU Press, Medan

Syamsulbahri.1985.Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan.UGM Press,Yogyakarta

Wahyono, T., R. Nurkhoiry., dan M. A. Agustina., 1996. Profil Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Kelapa Sawit, Medan

www.litbang.deptan.go.id/2011/kahat.fosfor.html. Diakses tanggal 05 Desember 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © 2012 pertanian bung / Template by : Urangkurai